Yang Berbeda Setelah Punya Dua Anak

 

Buat yang udah punya anak lebih dari satu (dua, tiga atau mungkin lima?:p) setuju gak sih kalo saya bilang meskipun udah punya pengalaman sebelumnya, kelahiran anak selanjutnya tuh tetap ada rasa deg-degan kayak menghadapi sesuatu yang baru lagi? Dan karena setiap anak memang merupakan individu yang berbeda, masing-masing tetap punya cerita sendiri yang mungkin ngerubah kebiasaan atau cara pandang kita sebagai ortu. Kalo buat saya pribadi perubahannya adalah hal-hal berikut ini :

  1. No More Baby Blues, Hello Kakak Blues

Baby blues di anak pertama tuh umumnya wajar terjadi. Pas anak kedua lahir sedikit lebih santai karena udah punya bayangan buat urusan lahiran dan menyusui (meskipun tetap pedih di awal-awal). Pas di rumah sakit sih masih hepi-hepi ajah.. Pas sampai rumah, mulai deh datang perasaan mellow2 ga jelas, suka nangis tiba-tiba kalo ngeliat kakaknya… kayak ada perasaan bersalah gitu ngerasa selama ini belum maksimal buat si abang tapi sudah harus sibuk ngurusin adeknya. Tapi kayaknya ga semua mommies ngalamin si kakak blues ini 😀

  1. Level Multitasking Meningkat

Punya bayi memang ‘memaksakan’ kita untuk bisa multitasking, menyusui sambil makan, sambil nyetir (eh yang ini jangan ditiru ya), sambil nulis dan lain-lain. Dan ternyata pas udah punya anak lebih satu, level multitasking semakin meningkat. Salah satunya kalo jalan kemana-mana bertiga pastinya tangan yang satu gendong bayi, yang satu lagi gandeng abangnya, sambil bawa belanjaan atau tas. Pernah juga waktu itu lagi nyusuin adek bayi sambil bantuin abangnya nyusun Lego bareng (I do it with my two hands, si adek diganjel pake bantal haha).

  1. Lebih Santai

Jujur dulu saya termasuk ibu-ibu yang punya idealisme tinggi waktu ngebesarin anak pertama, mulai dari urusan makan, pendidikan, urusan main dan lain-lain. Beda sama anak kedua yang lebih santai dan lebih ngebebasin dia untuk eksplorasi. Asal gerak-geriknya masih dalam pandangan mata, tidak membahayakan dan tidak mengganggu orang lain. Kecuali di mol yaa, soalnya masih takut ilang huhuu…

  1. I Stop Judging Other Moms

Kebetulan anak kedua saya memang lebih ekspresif dibandingkan abangnya ketika masih jadi toddler. Dan serial tantrum adalah salah satu tantangan baru yang musti dihadapi. Hikmahnya, saya jadi lebih banyak baca dan belajar lagi dalam menghadapi anak dengan tipe seperti ini. Selain itu, saya juga jadi sadar kalo setiap ibu punya kesulitan dan tantangannya masing-masing dalam membesarkan anak. Belum yang punya masalah lain di kerjaan atau di rumah tangganya. So why bother judging other moms? Lebih baik kita ada buat saling support daripada menjatuhkan yee kaan….

 

Nah, itu dia beberapa perubahan yang saya alami setelah punya dua anak. How about you moms?

Ilmu Baru dari Acara Just A Little Talk

justalittletalk

Vlogging atau Video Blogging menjadi salah satu medium favorit di dunia sosial media saat ini. Sabtu kemarin (11/2), saya beruntung mendapatkan undangan untuk hadir di acara Just A Little Talk dengan Tema “Vlogging and Shooting Like A Pro”. Narasumber yang hadir adalah youtube-er mas @goenrock dan juga instagrammer @jonathanend.

Saya sendiri hingga sekarang masih hanya menggunakan iphone untuk foto-foto di instagram, jadi makin penasaran karena katanya nge-vlog pake smart phone tuh bisa-bisa aja sebenarnya. Simak tips nge-Vlog berikut dari Mas Gun yang dishare pada hari sabtu kemarin.

img_0617

1. Tidak Harus Bicara Depan Kamera

Merasa ga punya kemampuan untuk ngomong depan kamera? Jangan khawatir, kamu bisa  menambahkan teks atau grafis di dalam video untuk tetap bisa mengkomunikasikan isi vlog kepada audiens.

2. Buat Konten Layak Tonton

Pastikan vlog yang dibuat memang berkualitas dan enak untuk ditonton, menurut mas Gun dalam membuat vlog harus memiliki unsur-unsur berikut yaitu informatif, faktual , entertaining (mas Gun hobi nge-guyon di dalam videonya)  serta interaktif kepada audiens.

3. Siapkan Shot List

Membuat vlog sebenarnya tidak memerlukan naskah karena akan mengalir secara alami, namun lebih baik jika kamu menyiapkan daftar shot list serta rencanakan scene apa saja yang ada di dalamnya.

4. Equipment

Pertanyaan ini paling sering diajukan (termasuk saya sendiri), kalau bikin vlog itu baiknya pakai kamera apa sih? Mas Gun menyarankan gunakan peralatan sesuai kebutuhan, misal kalo hobi self shooting cukup pakai kamera digital atau mirrorless. Suka dengan gambar yang memiliki bokeh bisa gunakan kamera DSLR. Ingin langsung edit dan upload ya pakai smart phone, tapi.. harus diperhatikan juga pencahayaannya apakah cukup bagus atau tidak, terus kurangi suara bising dengan menggunakan headset atau akali dengan cara seperti gambar di bawah.

justalittletalk3

5. Pelajari Teknik Pengambilan

Untuk mempertajam informasi yang mau disampaikan maka sebaiknya kamu mengerti tentang teknik pengambilan gambar yang tepat. Misal pengambilan gambar yang low untuk kesan megah dan kuat, eye level untuk wawancara serta high level untuk menggambarkan sesuatu yang sedih.

6. Editing

Dalam editing ada beberapa aplikasi yang disebutkan, seperti untuk desktop ada imovie, adobe premier, final cut, dll. Untuk smartphone ada videoshow, adobe premiere clips, quik, dsb. Ingat, saat editing vlog posisikan diri Anda sebagai viewer ya. Saat ini juga banyak situs yang menyediakan free music untuk vlog seperti di freestockmusic.com.

Sesi dari @jonathanend menceritakan tentang pengambilan gambar untuk di instagram dalam menggunakan smart phone khususnya. Berikut tipsnya :

justalittletalk4

1. Plan Your Feed

Ambil gambar yang memang Anda suka, jangan terlalu banyak memikirkan tentang likes karena akan membuat Anda ragu-ragu dalam berkreativitas.

2. Gunakan Grid

Dalam menggunakan smart phone, nyalakan grid feature agar bisa mengambil gambar dengan lurus.

3. Mengambil Gambar

Cahaya alami adalah sahabat kamu, selalu awas untuk tidak kehilangan momen, cari objek yang memiliki warna kuat, ambil gambar dari angle yang berbeda. Kamu juga bisa bermain-main dengan kubangan air, cahaya dan bayangan. Ambil gambar dalam jarak dekat untuk menciptakan emosional dan intimasi.

4. Objek di Malam Hari

Malam hari selalu sesuatu yang menarik untuk diambil gambarnya, untuk mengantisipasi agar gambar tidak terlalu ‘bising’, gunakan tripod atau atur kamera smartphone dengan menggunakan iso yang tinggi. Jika smartphone Anda tidak memiliki fitur ini, bisa download aplikasi seperti camera fv5.

Jangan lupa, semua teknik ini membutuhkan latihan yang sering. Jadi jangan ragu-ragu memperkaya instagram dengan hasil jepretan kamu ya.

Acara ini diselenggarakan di Little Talk Coffee, di dalam perumahan Vida Bekasi (cek ig mereka : @littletalkcoffee). Kafe ini memiliki banyak spot-spot yang menarik buat foto-foto, rencananya acara Just A Little Talk ini akan diadakan setiap satu bulan sekali dengan tema yang beragam.

img_0609

fullsizerender       img_0639

See you on next event!

 

Menyapih Dengan Strategi

img_5877

Saya selalu membayangkan cerita menyapih anak-anak akan semulus seperti di blog atau di instagram dimana si anak pada umur 2 tahun tiba-tiba bilang “aku udah gede, ga nenen lagi ya mommy”. But, IT NEVER HAPPENED. Persapihan kedua anak saya sering kali penuh drama di awal-awal.

Anak pertama saya Rais berhasil disapih di umur 2 tahun 9 bulan dan anak kedua saya Aina baru berhasil di umur 2 tahun 2 bulan, ya..baru 2 minggu terakhir ini. Sempat sedikit ‘memaksa’ menyapih di awal bulan November namun berujung anaknya sakit diare dan muntah-muntah…mungkin karena sebenarnya dia belum ikhlas L akhirnya karena ga tega saya kembali menyusuinya lagi…

Kepikiran juga sih, anak ini tadinya dari baru lahir udah diajarin supaya bisa menyusui dan terbiasa mengakses PD selama 24 jam terus tiba-tiba disuruh udahan…waaa pastinya bakalan protes lah ya.

Alhamdulillah pada suatu malam ketika mau tidur saya cuma bilang “Aina bisa tidur sendiri, Aina sudah tidak perlu nenen lagi, Umi usap-usap saja ya?” Dan tanpa tantrum dia mengangguk dan cuma memeluk tangan saya. Wah udah ikhlas nih. Abis dari situ dia jadi terbiasa tidur dengan sendiri…

Buat yang lagi pengen nyapih atau lagi menyusun strategi, berikut beberapa langkah yang saya lakukan ketika menyapih Aina, semoga bermanfaat yaa.

1. Sounding dengan Kata-kata Positif

Saya memilih kata-kata yang positif dan sederhana seperti “Aina sudah besar, anak besar kalo haus minum dari gelas” Awal-awal saya ngomong begini baru satu kalimat aja anaknya udah langsung nangis/tantrum, tapi kemudian lama-lama ngga. Saya sempat menyusun kata-kata yang cukup panjang tapi ternyata anaknya keburu mabur…

2. Kurangi Frekuensi Menyusui

Hal pertama yang saya lakukan dari sebelum ulang tahun Aina yang kedua adalah mengurangi frekuensi menyusui. Dimulai dari jika di rumah saja – ketika mau tidur saja – tidur malam saja – no breastfeeding at all.

3. Gantikan Aktivitas Menyusui

Menemukan aktivitas pengganti menyusui adalah proses trial and error, karena tidak semua anak bisa dibujuk dengan cara yang sama. Berikut beberapa percobaan yang saya lakukan :

  • menggendong-gendong hingga tidur, bukannya malah tidur anaknya malah nangis dan minta turun.
  • yes ive tried bottles….memasukkan susu uht ke dalam dot kemudian anaknya malah melempar jauh dotnya….
  • membaca buku cerita. yes! Ini salah satu cara yang berhasil, karena Aina lumayan suka dibacakan buku cerita. Jadi aktivitas Aina sekarang sebelum tidur adalah membaca buku, abis itu dia akan guling-guling sendirian hingga tertidur.

4. Dukungan Suami

Sebelum mulai menyapih, komunikasikan dengan suami agar bisa saling membantu ketika kondisi mengharuskan. Sebenarnya saat tersulit bagi saya bukanlah ketika mau menidurkan Aina, tetapi ketika di tengah malam dia bangun karena sudah terbiasa langsung menyusui. Di sinilah peran suami saya, biasanya ketika di tengah malam suami saya lah yang akan terbangun dan menanyakan apakah Aina mau pipis atau minum.

5. Tunjukkan Kasih Sayang

Anak mungkin akan merasa sedih ketika tau mereka tidak bisa menyusui lagi. Dalam proses menyapih, saya lebih sering memeluk dan mencium Aina sambil meng-encourage mereka dengan kata-kata positif. Paling ngga untuk menunjukkan meskipun sudah ga nenen bukan berarti umi udah ga sayang lagi yah….

Maybe this is your first learning of let things go, semoga ASI selama dua tahun dan proses menyapih ini menjadi bekal kamu yang bermanfaat di masa depan ya Neng…

img_9280

Merencanakan Keuangan dengan 50-30-20

Teenage girl (14-15) with wallet
*gambar dari sini

Menjadi stay-at-home mom membuat saya banyak belajar tentang hal-hal yang selama ini tidak dikelola dengan baik seperti emosi, manajemen waktu dan juga keuangan. Jujur sy cukup berantakan dalam urusan keuangan ketika masih bekerja kantoran dulu… selain BM (banyak mau), sy juga sangatlah impulsif! Pesen tiket pesawat, tiket konser, jajan-jajan, beli baju sepatu, gadget dan juga urusan anak cuus langsung beli ga pake mikir. Yang ujungnya sering kali di akhir bulan manyun dan rudet krn bokek.

Ketika resign, tentunya semua itu berubah… walaupun saat ini sy menjadi penulis lepas di beberapa situs namun sy sadar bahwa pekerjaan ini mungkin tidak akan selalu ada yang artinya harus pinter-pinter ngatur keuangan. Bahasa kerennya “Save it for the rainy day”.

Beruntungnya salah satu proyek yang dikerjain saat ini berkaitan dengan keuangan yang membuat sy harus banyak cari tahu tentang hal-hal yang berhubungan dengan itu. Selama ini memang udah beberapa kali ikut seminar keuangan dan juga baca buku beberapa financial planner lokal. Tapi sayangnya selama ini belum pernah ada yang diaplikasikan dengan serius. Akhirnya ketemu lah si formula 50-30-20 ini yang menurut sy cukup sederhana untuk dilakukan. Kurang lebih seperti ini penjabarannya.

1. Hitung jumlah pemasukan dan pengeluaran

Tuliskan jumlah pendapatan bersih setiap bulannya. Setelah itu, bikin daftar semua pengeluaran rutin (yang gampang aja di excel). Ini juga termasuk sama hal-hal yang autodebet yah… kayak cicilan mobil atau bayar internet.

2.  Batasi pengeluaran rutin sebesar 50% dari pendapatan

Sebelum invoice/gaji cair, sy tuliskan dulu perkiraan pemasukan di bulan depan dan membuat rencana pengeluaran di bulan depan. Termasuk di dalamnya ada belanja mingguan (i prefer do weekly than monthly), bayar sekolah/kursus anak, pulsa dan juga zakat. Batasi pengeluaran rutin hingga 50% dari jumlah pendapatan.

3. Dana konsumtif sebesar 30% dari pendapatan

Di bagian ini sy masukkan hal-hal yg sifatnya konsumtif seperti keperluan anak-anak kayak beli buku,sepatu, jalan-jalan di waktu weekend, tas, kosmetik, nyalon,dsb. Selain itu, sy juga masukkin nabung dana buat liburan disini (karena sy mau nyetop penggunaan CC yesss)

4. Sisa 20% untuk menabung dan bayar hutang

Jumlah terakhir ini digunakan untuk menabung dan membayar hutang seperti kartu kredit. Saya berencana untuk bisa melunasi kartu kredit di beberapa bulan ke depan agar bisa lebih maksimal dalam menabung atau berinvestasi. Karena saat ini saya merasa 20% itu masih kurang untuk menabung, beberapa jenis simpanan lain seperti reksadana saya masukkan di dana konsumtif yang 30%.

So far, selama beberapa bulan ini sy ga pernah skip dari daftar yang udah dibikin sih. Jadi klo di pos pengeluaran lain ada yang kelebihan, tinggal dikurangin di pos yang lain. Merasa seimbang dengan formula ini karena ketika gajian bukan hanya untuk bayar-bayar kewajiban tetapi juga inget kalo kita punya dana untuk senang-senang.

Semoga bisa seterusnya yaaa… Mungkin teman2 punya formula lain yang lebih ciamik?

Bahagiakah Saya?

me&kiddos

Akhir-akhir ini beberapa teman menghubungi saya melalui WA dan bertanya, “Mit, gimana rasanya setelah  menjadi ibu rumah tangga? happy gak sih di rumah? Bosen ga sih? Kok kayanya loe enjoy2  aja ya” dan pertanyaan lain semacam itu. Sudah hampir dua tahun saya menjalani peran menjadi stay-at-home mom dan buat saya, bahagia itu tidak ditentukan apakah posisi kita di rumah atau di kantor. Happiness is a choice. Bila suatu saat nanti saya pun harus kembali ke kantor bukan untuk menjadi bahagia, namun untuk menjemput rezeki-Nya.

Bukan berarti saya bisa selalu bahagia ya, Allah sudah menganugerahkan kita dengan berbagai macam jenis perasaan lain seperti, marah, sedih, kecewa, jenuh dan lain-lain yang jika dipendam malah akan menjadi penyakit di badan kita. Saya juga tetap mengungkapkan kegusaran saya bila dirasa perlu, namun ada kalanya saya lebih memilih untuk fokus kepada hal-hal lain yang bisa membuat saya bahagia.

Egois ga sih, mikirin kebahagiaan sendiri?

Mengutip dari bukunya Gretchen Rubin-The Happiness Project :

Happy people generally are more forgiving, helpful, and charitable, have better self-control, and are more tolerant of frustration than unhappy people, while unhappy people are more often withdrawn, defensive, antagonistic, and self absorbed

Jadi sebagai seorang istri dan ibu dua anak, penting banget untuk mengetahui cara bagaimana membuat diri kita menjadi bahagia. Walaupun saya sering tegas (baca=galak) ke anak-anak, saya tetap ingin mereka memiliki memori yang bahagia di rumah dan menyadari bahwa ibu mereka sayang dengan sepenuh hati.

Jadi, saya memilih melatih diri untuk bisa selalu menjaga ‘kewarasan’ di dalam diri dengan hal-hal berikut :

  1. Olahraga paling tidak 1 minggu sekali

Dengan keterbatasan waktu yang ada ,saya selalu menyempatkan diri entah sekedar berenang, melakukan sit up atau push up atau berlari mengejar Aina di luar rumah. Kalo jalan-jalan di mol gak saya itung sebagai sebuah olahraga soalnya ga keringetan :p plus pulang-pulang malah jadi pusing karena pengen ini itu.

 

  1. Mensyukuri hal-hal kecil

Ya, saya sering membuat daftar ini untuk diri sendiri, seperti mencium bau hujan, menikmati susu coklat hangat, dimasakin suami,  bisa selonjoran nonton tv series pas anak-anak tidur, bisa kerja sambil pake daster di rumah, dan lain-lain sebagainya.  Bukan untuk pamer tetapi untuk mengingatkan bahwa banyak hal-hal kecil yang  bisa saya syukuri.

 

  1. Memiliki sahabat

Parenting can be exhausting sometimes, memiliki seorang sahabat yang bisa diajak ngobrol hal-hal lain selain tentang rumah tangga dan anak bisa mengingatkan kembali siapa diri kita serta memberikan pandangan lain tentang dunia luar.

 

  1. Kurangi baper, matikan sosmed

Sebenarnya baper (bawa perasaan) itu manusiawi yah. Kalo bisa bikin kita jadi termotivasi untuk berusaha lebih baik sih oke-oke saja. Tapi kalo justru malah membuat kita depresi, berarti itu tidak baik. Ketika saya mulai baper, saya memilih untuk mematikan celullar data, tidak membuka sosmed untuk sementara waktu dan fokus apa yang bisa dikembangkan dari diri saya atau anak-anak.

 

  1. Aim higher

Mensyukuri hal-hal kecil bukan berarti saya sudah cukup puas diri. Itulah sebabnya saya juga masih sering mencari project-project tambahan, atau informasi apabila ada workshop atau seminar yang menarik untuk diikuti. Memperkaya ilmu pengetahuan dan informasi serta perasaan dapat menyelesaikan project dengan tepat waktu juga bisa membuat kita menjadi lebih bahagia.

 

Jadi, bahagiakah saya?

Yes I am… 🙂

Mungkin kamu punya tips sendiri untuk bisa merasa lebih bahagia?

Cerita Toilet Training Aina

img_7237

Toilet training, salah satu isu paling happening di usia Aina menuju dua tahun ini. Alhamdulillahnya, di usianya menuju 23 bulan ini kini anaknya sudah jarang banget ngompol bahkan pospaknya pun sering dalam keadaan kering. Belum bisa dibilang sukses 100% karena masih ada malam-malam dia pipis di lantai (iya anaknya bangun tapi mungkin terlalu lelah untuk ke kamar mandi jadi malah pipis di lantai). Terhitung cepatkah? Nggak juga, karena sebenarnya saya sudah sempat merasa kelelahan dan merasa Aina belum siap untuk diajari toilet training. Pertama, karena awalnya dia selalu mengamuk bila didudukkan di atas wc, kedua Aina belum bisa berbicara dengan jelas ketika dia ingin pipis atau pup.

Saya akan coba menceritakan tahapan perkembangan mulai dari pertama kali Aina toilet training yaitu mulai dari 18 bulan hingga hari ini 22 bulan, siapa tahu cerita ini bisa menginspirasi teman-teman yang sedang berada dalam perjuangan yang sama 😀

18 bulan – saya dan suami mulai bertanya-tanya kapan Aina harus latihan BAB dan BAK di toilet, karena dulu abangnya di usia yang sama sudah terbiasa melakukan keduanya di toilet. Cuma hasilnya GAGAL TOTAAL, yang ada setiap dinaikkin ke WC anaknya teriak-teriak, kedua kakinya ditegangin, dan minta turun…. Boro-boro mau pipis atau pup 😀

19 bulan – tidak kehabisan akal, saya memutuskan untuk membeli sebuah potty training seperti ini…

potty_puku_biru

Ternyata anaknya mau pipis disini, YESS… pottynya tetap saya letakkan di kamar mandi untuk memberikan orientasi bahwa kamar mandi adalah tempat untuk BAB dan BAK. Namun sayangnya untuk BAB Aina masih ga mau, malah kadang-kadang suka ngumpet…klo diangkat paksa anaknya malah ga jadi BAB -__-

20 bulan – anaknya lagi suka manjat dan suka naik-naik tangga. Hmm… jadi kepikiran apa pake toilet extra yang ada tangganya sehingga ada bagian naik-naiknya yang bikin Aina semangat duduk di WC.

8556c6e0-b25e-4008-995e-d9ff03bc5590-_cb310922566__sl300__

Tapi kok harganya lumayan mahal yah…. Ahhh akhirnya memutuskan memakai ‘jengkok’ yang dulu pernah beli di IKEA. Di letakkan di bawah toilet dan voila! Anaknya mau naik ke atas WC.. mesti masih dibantuin ibu, tapi sudah mau duduk di wc dengan sendirinya itu sebuah kemajuaan besaar setelah selama ini selalu nangis2 dramaa… Saya juga membiarkan Aina memegang mainan kesayangannya ketika di kamar mandi, hal ini lumayan menenangkannya di atas toilet. Di perjalanan, saya selalu mensounding Aina “kalo pipis atau pup di kamar mandi ya nak, disini ya nak(sambil menunjuk toilet)… bukan di celana atau di lantai”

21 bulan – mulai memantapkan hati untuk tidak memakaikan pospak sama sekali ke Aina (kecuali berpergian atau tidur di malam hari), disinilah banyak kejadian di antaranya mulai dari Aina yang terpeleset oleh pipisnya sendiri hingga terjatuh dan setelah kejadian itu Aina selalu teriak minta diangkat ketika pipis. Dan ibuk pun lari bergegas dengan senjatanya yaitu PEL dan EMBER :)) Namun disini sepertinya Aina mulai merasa tidak nyaman dengan rasa basah atau lengket akibat BAB dan BAK. Pernah juga Aina mengepel pipisnya sendiri sambil bilang “Yaaah…Aina maaah” Mungkin karena saking seringnya ibuk ngomong begitu.. hahaha. Disini Aina juga mulai merepetisi ketika saya bilang “kalo pipis di kamar?” “Mandiii” begitu jawabannya.

22 bulan –Pada suatu hari dia berjalan ngeloyor masuk ke kamar mandi sendiri (untungnya saya sudah lapisi anti slip di lantai kamar mandi) dan ternyata dia pipis..walaupun sambil berdiri dan belum membuka celananya (iyak, brief ibuk kurang lengkap kayaknya) tapi AKHIRNYAAA  dia sudah mengerti bahwa tempat BAB dan BAK adalah di kamar mandi. Walaupun Aina belum berbicara jelas namun dia bisa sudah bisa memberi kode dengan menepuk pantat atau memegang celananya.

Menuju 23 bulan – sudah beberapa kali Aina bangun tidur dengan keadaan pospaknya kering, akhirnya saya memberanikan diri untuk tidak memakaikan Aina pospak di malam hari. 90% dia bisa bangun dengan keadaan kering, namun tetap ada lah momen-momen yang dia setengah tertidur dan mengompol di lantai…sepertinya dia menyadari klo ngompol di tempat tidur rasanya akan tidak enak. Namun di luar itu, saya hanya perlu mengingatkannya jika sudah lebih dari dua jam Aina belum ke kamar mandi..”Adek, mau pee atau pup?” jika iya dia akan mengangguk, dan jika tidak dia akan jawab enggak.

Hamdallah.

Semoga konsisten ya naak…

Tips for Newly Stay-at-Home Mom

Having a kid is a life changing phase….

Salah satunya perubahan besar yang saya lakukan adalah menjadi seorang stay-at-home mom setelah hampir 10 tahun malang melintang di dunia bekerja. I love what I do, kantor terakhir saya bekerja di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah. Saya juga memiliki tim yang menyenangkan serta gaji dan posisi yang cukup memuaskan.

Drama ART

Drama yang sering dihadapi oleh ibu-ibu masa kini, ART minta pulang kampung dan tidak kembali lagi akhirnya datang setelah saya melahirkan anak kedua saya-Aina. Sempat terpikir untuk merekrut baby sitter saja, namun saat ini saya tinggal di rumah sendiri dan tidak ada orang tua yang bisa bantu mengawasi dan mendamping anak-anak saya bersama pengasuh barunya nanti. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dahulu dari pekerjaan saya. Terhitung hanya satu bulan setelah cuti melahirkan saya berada di kantor, saat itu Aina dititipkan di daycare, dan abangnya Rais dititipkan ke mertua saya.

Hari-hari pertama setelah resign terasa begitu menyenangkan, walaupun saya tetap dijadikan penulis lepas di kantor terdahulu, saya bisa bangun dan tidur kapanpun saya mau, nonton TV dengan tenang di pagi hari dan tidak perlu menghadapi macetnya jalanan Jakarta. Setelah 2 bulan berjalan, tiba-tiba saya merasa sangat kelelahan. Kenapa saya merasa jauh jadi lebih lelah daripada waktu bekerja dahulu… Setelah ditelaah, kemungkinan kelelahan ini karena saya tidak memiliki jadwal, jadi semua hal dilakukan dengan responsive. Sempat merasa jenuh dan tidak produktif, bahkan menjadi lebih cepat emosi.

Berikut beberapa tips dari saya untuk membuat masa transisi dari seorang working mom menjadi stay at home mom menjadi lebih menyenangkan :

  1. Buat jadwal produktif

Buatlah jadwal kegiatan sehari-hari dan usahakan untuk taat pada jadwal tsb, misalnya memasak pada jam 5.30-6.30, bekerja jam 8-10 (dalam hal ini saya menulis), 10-11 bermain bersama Aina sambil menunggu abangnya pulang sekolah, 11-12 menyiapkan makan siang dan seterusnya. Lebih bagus lagi bila kita dapat menyusun menu untuk 1 bulan ke depan sehingga tidak ada kegiatan menerawang atau browsing di malam hari “besok masak apa yahh?. Selain itu saya juga membuat jadwal untuk anak-anak. Misalnya nonton TV hanya jam 1-3, jam 3-4 adalah waktu belajar, jam 4-sebelum magrim adalah waktu bermain di luar ruangan seperti bersepeda, main sepakbola atau sekedar jalan ke taman, jam 6-7 ishoma, begitu seterusnya.

  1. Luangkan waktu untuk me-time

Me-time saya cukup simple, yaitu menonton film, menulis dan mengedit foto. Kegiatan ini saya lakukan ketika anak-anak sudah terlelap. Dan ketika weekend, suami biasanya sudah mengerti kalo saya JENUH memasak dan dia akan berinisiatif untuk memasak atau mengajak makan di luar, saya juga kadang-kadang menitipkan Aina ke suami/ortu untuk sekedar ke salon atau nonton berdua dengan anak pertama saya (saya tetap memompa dan menyimpan asip untuk tetap bisa melakukan kegiatan2 seperti ini selain untuk keadaan darurat seperti sakit,dsb)

  1. Set a simple goal for the family

Set your own goal tentang apa yang mau dicapai di rumah, target saya tidak muluk-muluk. Tahun ini saya ingin anak sulung saya bisa melakukan beberapa pekerjaan rumah, anak pertama saya ingin bisa lancar baca tulis dan toddler saya bisa pinter makan sendiri (ok yang ini rada muluk2 hehe) . Saya juga ingin belajar baking dan mengecat rumah saya menjadi warna baby blue (dan sudah dilakukan!)

  1. Have yourself a quick moodbooster

Ketika sedang lelah, cari moodbooster instan di rumah yang dapat membuat Anda kembali bersemangat. Mood booster saya adalah minum susu coklat dingin dan curi-curi ikut tidur siang bersama anak-anak. Biasanya saya merasa jauh lebih fit walaupun hanya 15-30 menit terlelap. Mendengarkan lagu favorit sambil menyanyikannya juga salah satunya!

  1. Get a help

Saya sadar saya sangat payah dalam menyetrika, lama dan tidak rapih. Saya jadi merasa terlalu menghabiskan banyak waktu untuk mencuci dan menggosok daripada menghabiskan waktu yang berkualitas bersama anak-anak. Sehingga akhirnya saya merekrut seorang ART khusus untuk cuci gosok saja di pagi hari (jam 10 sudah pulang). Saya pun berbagi tugas dengan suami, untuk menyapu, mengepel, menggosok kamar mandi adalah bagian tugas dia *yippiie.

  1. Don’t be overexpected

Jangan karena di awal sudah memiliki target sehingga kita menjadi mudah stress jika belum tercapai. Anak-anak memerlukan proses yang natural dalam perkembangannya, being a parent is not a race. Jangan terlalu difikirkan bila ada yang komentar “anakku sudah bisa ini itu,kok anak kamu belum?”, dan lain sebagainya.

  1. Enjoy every single moment

Nikmati setiap waktu bersama anak-anak, mana tahu suatu saat saya akan kembali bekerja. Ingat bahwa tangan-tangan kecil ini akan membesar, mulut kecil yang cerewet ini akan menjadi sunyi, dan mereka akan tumbuh menjadi remaja yang mungkin tidak mau sepanjang waktu di dampingi oleh ibunya.

Apapun keputusan kita, menjadi working mom atau stay at home mom, be happy with your decision. Your children will become what you are. So be what you want them to be!

IMG_0997

Minta Ijin ke Anak

Dari semenjak Rais bayi hingga sekarang umur 4,5 tahun saya selalu meminta ijin jika saya akan pergi2 tanpa dia. Termasuk bekerja setiap paginya..

*foto ini ketika Rais umur 9 bulan, saya lagi bercakap2 sambil bcanda dengan dia sebelum berangkat bekerja

Tidak mau menjadi ibu-ibu yang harus sembunyi2 ketika berangkat kerja, juga tidak mau meninggalkan anak dengan keadaan histeris ditinggal ibunya bekerja. Ada masanya juga ketika Rais lg moody ga pengen ditinggal emaknya. Seringkali saya harus menghibur dengan menyisihkan waktu lebih bermain bersama dia dulu, sehingga tidak jarang saya telat (bangeet) sampe di kantor. Seperti jalan-jalan di taman komplek, menonton kartun dengan dia, hingga moodnya sudah stabil kembali. Kecuali klo doi sakit, ini sih langsung ijin tidak masuk KERJA biasanya 😀 Sambil bermain sambil saya iringi juga dengan penanaman pesan ke dia kenapa umi harus bekerja…. Saya cuma ingin tahu walopun saya bekerja, dia tetap menjadi yang utama.

Hal ini juga dilakukan jika saya mau pergi dengan teman-teman saya di jam pulang kantor atau musti lembur sampe malam, saya menelp ke rumah dulu. Wkt Rais blm bs bicara, mungkin dia cuma bs menerima kalo emaknya akan pulang malam hari itu.. Kalo sekarang, jalan hanya klo diijinin… klo gak diijinin, brapa kali saya membatalkan janji saya hanya krn anak saya ingin saya smpe di rumah lebih cepat hari itu. Tp dia ngga jadi serta merta selalu tidak ngijinin setiap saya mau pergi.. kdg2 dia ngijinin juga dg syarat “boleh, tp pulang beliin donat coklat ya..buat besok bekel sekolah” yaaah jadi nyogok gak tuh jatohnya.. :p

Harapannya sih dengan membiasakan seperti ini, kelak dia remaja nanti. Dia bakal selalu ngupdate ke emaknya klo pulang telat, pergi malam, dll. Sekarang Rais sudah bisa main ke rumah temannya sendiri sambil ijin..”Mi aku main ke rumah chico dulu, mau main mobil2an” atau ketika sore “Mi, aku main sepeda dulu ya sama teman2ku nanti sblm adzan magrib sudah pulang” *sambil ttp diintilin dr jauh kemana anak itu melancong hihi.. for secure reason.

IMG_5305

Semoga komunikasi kita yang seperti ini bisa konsisten ya naak… 🙂

Cerita Sekolah Alam..

Akhirnya Rais berpisah juga dengan Sekolah Alam Cikeas (SAC) , setelah 1 tahun sudah menjadi murid Playgrup disitu.

Awal-awal masukin Rais ke sekolah alam banyak pro-kontra yang ngasih masukan tentang sekolah alam. Klo kami pribadi memilih SAC itu sih cuma simpel, playgrup kan usia bermain ya.. selain dekat dengan rumah, saya pengen pengalaman awal sekolah dia adalah belajar dan bermain di alam, dekat dengan tanah,banyak eksplorasi dan sosialisasi.

Sebenarnya beberapa materi sih bisa banget kita terapkan di rumah sendiri, cuma karena sikonnya saat ini emaknya bekerja jadi minim waktunya di rumah.. Satu lagi, sekolah ini ga ngepush murid-muridnya untuk bisa baca dan tulis sebelum waktunya, dan penggunaan bahasa yang digunakan sehari-hari juga msh indonesia. Rais waktu umur 3 tahun bicaranya masih sedikit tidak jelas, jadi saya pikir dia harus bisa berbicara bahasa indonesia dengan baik dulu sebelum dia belajar menyerap bahasa inggris/asing lainnya. Ini dia foto-foto Rais bersama teman – teman PGnya.

Gambar

Mukanya jahil bener2 yak, katanya sih… Rais sering dianggap sebagai bapaknya anak-anak. Karena selama di sekolah, belum pernah ada kejadian dia nangis di kelas, suka bantu bu guru bila ada temannya yang perlu dirajuk/menangis.. kesannya dewasa amet ya (bingung juga, karena klo di rumah dia seperti anak kecil pada umumnya sih.. yang sering dicerewetin sm emak bapaknya hehe)

Beberapa foto kegiatan Rais selama di SAC :

Green Lab 

 

CaptureLALALA   Green Lab

Aktivitas Green Lab ini dilakukan setiap hari Senin. Foto di atas ceritanya pas lagi menanam bayam. Bayam yang sudah berkembang boleh dibawa pulang sm anak-anak dan akhirnya menjadi makan siang Rais juga pada waktu itu:p Selain berkebun anak-anak juga reguler ngasih makan hewan kambing disitu.

Outbond

 

Capture

1240555_1387203168179321_1834453574_n 1230063_1387202188179419_673359030_n

Seru ya.. seinget saya dulu sih Rais tuh lumayan parno-an sm ketinggian. Makanya pas awal masuk, saya jg udah nitip pesan ini ke gurunya. Tapi mungkin karena disana dibiasakan untuk kegiatan outbond seperti di atas, sekarang sih Alhamdulillah udh jauh lebih berani.. tp tetap dia musti mastiin dulu safetynya. Klo yg ekstrim banget kyk flying fox gitu juga belum berani…

Perpustakaan

66797_1387248424841462_1113291446_n                           1236373_1387247714841533_1474967232_n

Nah kalo yang ini tiap hari Rabu, sesinya di perpustakaan. Ada sesi story telling n pas pulang anak-anak dibolehkan memilih dan meminjam 1-2 buku untuk dibawa pulang. Yang ini sih mamaknya yang seneng, lumayan jadi ngurangin budget beli buku tiap minggunya.. udah bukunya bagus anak-anak jadi punya bahan bacaan yang variatif di rumah.

Kegiatan selama di kelas

9087297_orig            Capturerrrr

Kurang lebih situasinya kalo di kelas seperti di atas. Kelasnya sendiri memang menggunakan konsep open space gtu.

So far selama Rais di SAC belum pernah ada kejadian mogok/drama ga mau masuk sekolah.

Yah..paling banter ksiangan bangun dan males diburu-buru klo abis libur panjang. Bahkan pernah pas lagi liburan, doi bangun ambil handuk n langsung ke kamar mandi ” ak mau mandii, kan sekolaah..” heee dia kangen bingit sama sekolahnya. Alhamdulillah sih, memang yg terpenting saat itu dia enjoy di sekolahnya. Jadi tidak merasa tertekan/terbebani ketika berangkat ke sekolah.

Setiap semester suka ada tugas juga namanya Work with Parents, sesuai namanya tugasnya dikerjain anak bareng ortunya donk. Bukan anaknya ajah 🙂 Sedih juga sih musti pisah dari SAC, karena untuk TK saya dan suami memutuskan untuk pindahin Rais ke TK Islam dulu. Mudah-mudahan aja tetap betah dan semangat seperti waktu di SAC dulu, dan bisa belajar beradaptasi di lingkungan baru. Nanti klo SD minta ke SAC lagi, tetep jadi pertimbangan buat kami.

CapturePG Dayak

Thank you PG Dayak SAC, we will miss youuu….

Ketika Rais mjd anak hilang.

Kalau melihat dr judulnya,pasti yg terlintas pertama di kepala adalah.. “Ibunya gimana sih?masa bisa hilang” well..

Klo cm mau comment seperti itu,than stop reading this..

Ceritanya kira2 1 bulan yg lalu,kami ber3 pergi k bandung dan menginap di salah satu hotel di jl gatot subroto, kami tiba dsana jam 11 siang dan ternyata di jam itu kami belum bs check in.

“Kita muter2 aja yuk cari makan sambil nunggu check in jam 2,kemana ya?”

Akhirnya pilihan jatuh ke pusat perbelanjaan citylink..

Mal baru dimana ada hotel dg konsep baru dg nama Pop. “Iseng2 saja smbl membunuh waktu” pikir kami. Sampai disana dengan keadaan kami belum makan dan mengantuk serta lelah kita melihat mainan kesukaan Rais (dan semua anak saya rasa) yaitu kereta api.

“Ya sudah, Rais biar main kereta api ini dulu abis ini langsung pulang ke hotel” ucap saya ke suami. Kemudian belilah tiket itu dan Rais langsung naik kereta itu.. Dari umur 1tahun 8bulan Rais selalu minta utk tidak ditemani klo naik kereta2an..dari dulu selalu bilang “Ais bisa sendiri ko mi,umi duduk aja disitu”.

Akhirnya sy titip ke suami saya “Bi,Umi jalan2 dulu ya kamu nungguin Rais disini” Ketika saya kembali ke tempat duduk tempat menunggu anak2 yang bermain kereta,saya melihat Rais sedang melambaikan tangannya ke saya “Umii umii dadaaah dadaaah,Ais naik keretaa”

Kemudian saya duduk di sebelah suami saya,kami pun mengbrol ngalor ngidul smbl menunggu anak kita.. Hingga saya iseng lihat ke belakang dan mengecek kereta yg Rais dan naikkin dan tersontak krn kereta itu sudah berhenti dg sdh tidak ad penumpang di dalamnya. Reflek pun saya teriak “Abiii anak kita manaaaaa???!!”

Pikiran saya pun sudah kalut

– kenapa dia ga teriak/nangis manggil saya,biasanya kalo d tmpt umum dan sy tidak terlihat dia sudah teriak manggil saya.

– apa dia disekap dan diculik orang hingga tdk sempat manggil saya,atau dia turun di tengah jalan,atau…..

– kemanaa kamu naak,umi harus cri kemana kalo ilang di Bandung? :”(

pikiran2 dia tiba2 mjd pengemis d jalan pun sudah terlintas di benak saya.

Suami saya sibuk menanyai petugas yg menjaga kereta itu, “masa ga lihat anak saya,ad cctv ga?kemana turunnya?” Yang sy pikirkan saat itu adalah pasti Rais belum jauh dari sini maka sayapun lari mengelilingi mall masuk satu persatu ke setiap toko sambil memanggil namanya..

Sy melihat suami saya memanggil dr jauh,mungkin dia khawatir saya akan panik dan pingsan, dari kejauhan sy cuma kasih tanda ke dia “kelilingin mol ini” dan kami berdua pun menyebar. Tidak lama kemudian sy mendengar suara suami saya memanggil “Raiiis!!” Dengan kencang, saya pun berlari dan ternyata benar itu memang diaa..

Apa yg sdg dia lakukan?dia sedang menyandar di pinggir kaca melihat ke bawah di mana ad acara anak2 berlangsung dtengah atrium bersama teman ktika dia naik kereta tadi. Kami pun tidak berhenti memeluknya dengan muka lempeng, Rais pun blg “Ais ikut kakak, umi kan disitu sm abii” dia pikir emgnya d rumah bs kembali ke kami seenaknya -__-

Dan si kakak pun yg brsama ayahnya cuma blg” saya jg bingung kenapa dia ngikutin saya terus” Rais memang lebih suka main dengan anak yg lebih besar,dia sll tertarik dengan apa yg mrk mainkan/lakukan.. Stlh kejadian itu,saya dan suami pun lihat2an.. “Ngga akan lagi melepas pandangan kita dari Rais walaupun hanya 1 detik!” Kejadian ini cukup membuat traumatik buat kita berdua sebagai orang tua… But not for Rais,yet! Berikut foto yang diambil ketika dia naik kereta

20121209-173102.jpg